(Bukan) Obituari: Mengenang Casper, Mengingat Bilo

Posted by cahfisipol Sabtu, 23 Januari 2010, under , , , , | 2 celoteh
Membaca Kilas Kawat Sedunia, Kompas (23/02/2010)membuat saya teringat akan kucing kami. Saya sebut 'kami' karena dia kucing kos, Bilo namanya.

Kilas Kawat Sedunia kali ini hanya menurunkan satu cerita, yakni obituari kecil tentang seekor kucing, Casper. Casper adalah seekor kucing yang memiliki 'ritual' keseharian yang tetap. Tiap hari duduk di halte dan menunggu bus untuk kemudian naik dan duduk melingkar pada salah satu kursi. Sopir dan masyarakat pun juga telah 'akrab' dan kenal dengan Casper beserta kebiasaannya itu. Sang sopir pun tahu di mana harus berhenti agar Casper dapat turun dan kembali ke tempatnya semula.

Sayang, Casper kini telah tiada. Ia tewas dengan sejumlah luka akibat ditabrak lari oleh seorang pengendara motor yang sembrono. Kematian Casper meninggalkan rasa kehilangan bagi pemiliknya, dan para sopir bus serta penumpang bus yang telah 'akrab' dengan Casper.

Susan Finden, sang pemilik Casper, merasa perlu untuk menempelkan secarik kertas yang mengabarkan kematian Carper bagi masyarakat dan sopir bus. Kematian Casper bukan sekedar kehilangan bagi sang pemiliknya, melainkan juga juga masyarakat dan para sopir bus. Casper telah menjadi bagian dari keseharian mereka. Dan Casper kini telah tiada.

Sebuah perusahaan bus telah sepakat untuk memasang gambar Casper pada busnya sebagai kenangan. Ia masih akan hidup dalam memori kolektif masyarakat selama ia masih terpajang pada bus tersebut. Selama satu generasi kedepan, setidaknya.

Di sini, di kos kami, Bilo adalah seekor kucing dengan ciri kucing tapak real. Kucing berwarna hitam, kecuali tapak kaki dan bagian bawah badannya yang gemuk, berwarna putih. Juga pada mulutnya. Seolah-olah, Bilo adalah seekor kucing yang sedang mengenakan jas dan sepatu berwarna putih.

Mirip dengan Casper, Bilo memiliki 'ritual' keseharian yng tidak pernah ia tinggalkan. Yakni, duduk seolah sedang menunggu sesuatu dalam setiap senja. Entah menunggu (si)apa, yang jelas hal ini ia lakukan rutin dalam setiap senja ditiap harinya.

Bilo, kini memang masih hidup. Dan tak satupun dari kami berharap ia pergi meninggalkan kami. Ia juga telah menjadi bagian dari keseharian kami sebagaimana Casper. Kegemarannya mengacak-acak tempat sampah kami, dan mencuri sisa makanan dari dalam tempat sampah dan meninggalkan serakan sampah di halaman kamar kos kami. Mengeong-ngeong disaat hari-hari sepi di kos, mengeong-ngeong saat kami sibuk sendiri-sendiri dalam kamar. Bilo telah menjadi bagian dari alam bawah sadar kami.

Sebagai bagian dari alam bawah sadar kami, terkadang kami tak memperhatikannya, mengabaikannya, dan pura-pura bertanya, "Siapa sih yang ngacak-acak tempat sampah?" dan kadang mengumpat "Ah, dasar sialan! bikin sampah berserakan aja!". Tapi ia tetaplah bagian dari keseharian kami. Menjadi hiburan saan kami merasa sendirian, menjadi bahan tertawaan saat merasa kesepian. Ia telah menjadi cerita dalam diri kami. Bilo, menjadi ikatan memori kami pada kos ini.

Bilo, memang belum pergi. Ia masih setia 'mengganggu' kami, setia dengan 'ritual' menikmati senja-nya setiap hari. Tak bisa saya bayangkan, apabila Bilo telah pergi nanti. Seberapa kami mampu mengingat Bilo dalam memori kolektif kami, atau minimal dalam ingatan masing-masing kami. Bilo adalah kucing kami, dan tulisan ini bukan obituari untuknya. Kami (saya) berharap agar jika umur kami (saya) tidak sepanjang Bilo, misalnya, kami (saya) telah meninggalkan sebuah cerita kami bersama Bilo.

Semoga kami bukan bagian dari masyarakat amnesia yang melupakan sejarah dan kisah kami sendiri. Panjang umur untuk kami, panjang umur untuk Bilo.

Karangwuni F5, 23 Januari 2010.

One Response to "(Bukan) Obituari: Mengenang Casper, Mengingat Bilo"

  1. Unknown Says:

    hmm..... cukup menarik... :)

  1. cahfisipol Says:

    Terimakasih mas Kamar Buku... :)